Foya-foya Fana Edisi Mikrobiologis

20 Mar

Yak…. Masih bulan Februari. Bulan ini saya cukup bahagia dan merasa bermanfaat bagi lingkungan sekitar😀. Foya-foya fana kali ini kami laksanakan sehemat dan semanfaat mungkin. Hemat karena dilakukan di rumah(ku), manfaat karena kami mengaplikasikan ilmu mikrobiologi sebagai mahasiswi jurusan Mikrobiologi dalam acara bulanan Foya-foya Fana. So wow bangets!!!

Awalnya Cika, Dhian, Puput, dan saya (masih Ian) ingin bersenang-senang di rumah Kiki. Tapi, karena ybs. (baca: yang bersangkutan) sedang bertolak ke Jakarta untuk menyambut keponakannya yang ganteng dan lucu dan masih bau rahim, maka jadilah kami bersenang-senang di rumah Ian. Kami berempat akan membuat menu utama yaitu sambel tempoyak teri, kudapan khas Bengkulu tempat Cika berasal (kalo aku sih asalnya dari surga :P). Kudapan lain yang akan kami buat adalah sambel teri biasa, petai goreng, kimbab suka-suka, kimchi goreng tepung, dan guava squash.

DSCN9435

Gambar 2. Hasil Masakan.

Naah…. Seminggu sebelumnya saya sudah memfermentasikan durian secara anaerob supaya menjadi tempoyak sesuai arahan master Cika. Jadi, durian matang dibelah, diambil daging buahnya, dimasukkan dalam plastik, diikat kuat setelah sebelumnya plastik dikempeskan, lalu dibiarkan beberapa hari. Mudah sekali untuk membuat tempoyak, bukan?! Ciri fisik bahwa fermentasi berhasil adalah plastik menggembung akibat gas dari hasil fermentasi, bau durian sudah tidak terlalu menyengat, aroma condong ke aroma masam, dan tidak ada hifa jamur (tidak kontam).

Tanya: Mengapa durian untuk sambel tempoyak harus difermentasikan?
Jawab: Ya karena kita mau bikin sambel tempoyak yang merupakan hasil fermentasi durian.
Tanya: Ngekk… jawabane mung diwalik (-__-)a. Emm… apakah untuk membuat sambel tempoyak tidak bisa memakai durian matang tanpa fermentasi?
Jawab: Bisa sih, cuma rasanya sambal nantinya condong ke manis. Aneh tau, di lidah…. Kalo pake tempoyak, rasanya lebih gurih karena fruktosa dalam durian sudah digunakan mikrobia anaerob untuk sumber energi (mikrobiologis bangets… XD). Resep sambel tempoyak bisa klik di sini.

Resep fermentatif lainnya adalah kimchi goreng tepung. Kimchi adalah hasil fermentasi sayuran (misalnya sawi putih, wortel, lobak, timun, kubis, dll) oleh bakteri asam laktat. Kimchi ini dibuat sendiri oleh Master Cika. Umur kimchi sudah 2 minggu. Rasanya benar-benar mantap. Asin-asam-pedas berbaur jadi satu. Memang tidak semua lidah dan tidak semua hidung cocok dengan kudapan dan aroma kimchi yang bawang banget. Hanya lidah-lidah istimewa seperti milik kami yang mampu menikmati kimchi. Apabila ingin tau cara membuat kimchi klik di sini. Kimchi saja rasanya sudah luar binasa. Setelah digoreng tepung, rasanya tetap luaaarr binasaaah. Lucu… gorengan sayur yang ada asem-asemnya :9. Resep kimchi goreng tepung klik di sini.

Sambel teri biasa kami buat dengan cara biasa dan menghasilkan rasa yang enak seperti biasanya. Resepnya tidak jauh berbeda dengan sambel tempoyak teri, hanya saja yang ini tidak memakai tempoyak. Resep sambel teri klik di sini.

Menu masakan berikutnya adalah kimbab, kudapan Korea. Kimbab yang kami buat kali ini diisi dengan bahan-bahan seadanya di rumah dan sesuka kami. Yaa… karena kimbab ataupun sushi pada prinsipnya hanyalah nasi yang diisi dengan sesuatu dan digulung dengan nori, makanya isi kimbab bisa kami buat sesuka hati. Resep kimbab suka-suka ciptaan kami silakan klik di sini.

Tanya: Apa bedanya kimbab dengan sushi?
Jawab: Kimbab itu arem-aremnya orang Korea, sedangkan sushi itu arem-aremnya orang Jepang. Kimbab itu biasa diisi dengan sayuran dan telur juga, sedangkan sushi biasa diisi dengan ikan dan diutamakan untuk ikan mentah segar. Kimbab dapat dimakan tanpa tambahan apapun, sedangkan sushi biasanya dimakan dengan tambahan washabi dan kecap asin.

Dan yang paling aduhai adalah petai goreng. Kedengarannya mengerikan dan udik, tapi nagih loh…. Saya sendiri baru kali ini makan petai yang digoreng dan lidah saya tidak punya masalah dengan itu. Cara memasak petai diketahui Puput dari warung penyetan favoritnya. Petai cukup dicuci kemudian digoreng begitu saja sekulit-kulitnya. Katanya sih, bau petai jadi tidak terlalu menyengat (Katanya…).

Menu terakhir, guava squash. Rasanya manis, segar, dan bersoda. Cocok diminum di siang hari setelah menyantap kudapan-kudapan pedas. Menu penutup goyangan lidah siang itu. Resep guava squash klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

thejulajulijuliana

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

mbejijath

a legend of unpredictable stupid story

YOURDAN HERLAMBANG

Bila sedang rindu, saya akan menulis

kamesem

Luwes Stories

Chacha Mariditha

This is my fantasy world! I write what I want to write.

Sanna's Blog

Semua... Segala.... Yang saya pikirkan, rasakan, alami, ketahui, dan cita-citakan tertulis di sini.

MEEL

Semua... Segala.... Yang saya pikirkan, rasakan, alami, ketahui, dan cita-citakan tertulis di sini.

Robusta Effect

Semua... Segala.... Yang saya pikirkan, rasakan, alami, ketahui, dan cita-citakan tertulis di sini.

krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

wordinstory

with a lot of words in this world, everyone can make a story

Catatan Perjalanan

Semua... Segala.... Yang saya pikirkan, rasakan, alami, ketahui, dan cita-citakan tertulis di sini.

Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya

Semua... Segala.... Yang saya pikirkan, rasakan, alami, ketahui, dan cita-citakan tertulis di sini.

Segores Pena Phie

- catatan seorang perempuan angin -

Cerita Jemari

Semua... Segala.... Yang saya pikirkan, rasakan, alami, ketahui, dan cita-citakan tertulis di sini.

%d blogger menyukai ini: